Posts

DIA PAHAM MEDAN HIDUP KITA

Image
  DIA PAHAM MEDAN HIDUP KITA Oleh Giokni WTC Writer | Trainer | Coach Dari tempat duduk di dapur mungilku, mataku terpapar silau yang menembus kaca bermotif batik kawung. Aku sedang ngaso sambil menyeruput cappucino yang kuperoleh setelah hampir 5 km aku berjalan pagi ini. Pikiran dan perasaan sedang kubawa pada sebuah state syukur. Aku sedang mengumpulkan memori dari pengalaman dan kesempatan yang bermuara pada kesimpulan “betapa baiknya Tuhan”. Tahun 2020 seakan menjadi milestone—pijakan penting—setelah 10 tahun bergerak melalui tulisan (sejak Blackberry Messenger), training, dan coaching. Ini adalah tempat yang kucita-citakan agar kami dapat mengundang orang untuk datang belajar. Nama baru kami sandangkan; “elevasi” ungkapan dari filosofi di belakangnya yaitu ingin membantu sesama membuat garis menanjak baik dari performance (kinerja) dan meaning (makna). Fakta dari situasi berkata lain, lantai dua tidak berisi orang-orang yang datang dan duduk belajar namun menjadi studio tempa...

MEKARLAH DIMANA PUN - BLOOM EVERYWHERE

Image
  MEKARLAH DIMANA PUN - BLOOM EVERYWHERE Oleh Giokni WTC Writer | Trainer | Coach Aku memundurkan langkahku. Mataku tertuju pada senoktah warna kuning persis di pinggir jalan beton pijakanku berjalan pagi ini. Jongkok dan mulai mengamati profil rupamu. Kelopak indahmu tidak besar, hanya seukuran kuku kecil jari manisku—dan jari manisku hanya berukuran 70% dari orang dewasa normal. Namun semakin kuamati aku menemukan lekuk-lekuk yang menakjubkan. Sempat terpikir, “Aahhh, seandainya ukuranmu besar.” Syukurlah frasa “seandainya” itu kurevisi dengan pemikiran lain, “Kondisimu ini pun, kau tetap cantik dengan ukuran petite-mu.”  Justru ada kekaguman lain yang menyeruak, aku takjub dengan ketangguhanmu. Ruang untukmu bertumbuh tidak banyak karena sudah ada lapisan keras bukan media alami tumbuhmu yaitu beton jalan raya. Toh, kau tetap mekar! Aku mengambil “metime” selama dua malam di tempat sejuk ini. Aku memutuskan untuk berdialog dan berkontemplasi. Ngobrol dengan diri sendiri sam...

Bahagia yang Sederhana

Image
  BAHAGIA YANG SEDERHANA “Wah, Pak,  bagus ini kalau sering masuk koran tentang wisata Jogja kayak gini,” Bu Bejo menyodorkan sebuah surat kabar kepada suaminya yang sedang minum kopi tubruk. Tajuknya berbunyi “Berani Uji Nyali Terbang Layang di Langit Parangtritis, Jogja?”  Pak & Bu Bejo punya warung seafood di kawasan wisata Parangtritis. Pak Bejo merangkap Ketua RW yang sekarang ini mendapat tambahan kesibukan mengawasi warganya dalam penerapan protokol kesehatan.  Setelah koran itu berpindah tangan, Bu Bejo yang super aktif sudah berselancar di media sosial di gawainya. “Weee, lha ternyata Trump ki positif lho, Pak. Ini dia nge-tweet ,” Bu Bejo terus berceloteh. Pak Bejo hanya mendongak sebentar tapi lanjut ke korannya.  “Pak, Pak.. bikinlah akun Twitter biar komunikasi tentang Covid bisa kamu sampaikan di sini.”  Sambil nyeruput kopinya, enteng berucap, “Ndak usah, aku sudah punya burung cantik yang efektif bercicit cuit dan bisa bikin sarapan, twi...

STASIUN TUGU

Image
  #yogyakartabercerita #yogyakartabercerita2020 #ybc2020 #ybc2002 @yogyakartabercerita @giokniwati Stasiun Tugu “V sixty, Arabica Temanggung, selamat menikmati Kak,” ucap ramah pemuda berjambang tipis itu. Senangnya hatiku dipanggil Kak padahal aku sudah seumur mamanya. “Makasih, Sam,” aku membaca pin yang menempel di T-shirt hitamnya. Wajah pemuda seusia anakku itu seperti menggelitik memori lama. Ahhh, ini pasti perasaanku yang mencoba mengait-aitkan. Faktanya aku sengaja terbang ke kota ini walau hanya punya waktu kurang dari 24 jam.  Aku mau menyimpan rasa nano-nano nostalgiaku ini lebih lama dalam bentuk tulisan. Kubuka MacBook Pro, jari mengetik dua kata “Stasiun Tugu”. Kedai kopi ini sengaja kupilih karena unik berdekorasi lokomotif. Letaknya sepelemparan batu saja dari Stasiun Tugu. Stasiun ini adalah tempat terakhir aku melihat wajahmu tersenyum tapi beku, tangan melambai tapi kaku.  Seminggu kemudian berita bahagia dari Kedutaan Australia sekaligus menjadi berit...

Gigi, Rumah Sakit, dan Bakso

Image
  #yogyakartabercerita #yogyakartabercerita2020 #ybc2020 #ybc2001 @yogyakartabercerita @giokniwati Gigi, Rumah Sakit, dan Bakso Dua bulan lalu aku terpaksa merelakan si bungsu yang berdomisili di pojokan rongga mulut. Yuhuuu.. sesuatu ya, ke dokter gigi di masa pandemi Covid-19, dokter dan suster lengkap ber-APD.  Ya iyalah! Mereka sangat riskan sekali, mengobok-obok si liang droplet.   Memoriku melayang ke tahun 1992, baru setahun aku kuliah di Jogja. Selain kampus aku perlu bolak-balik ke klinik gigi di R.S. Bethesda. Berjalan kaki 15 menit dari kosku di Kepuh-Jalan Solo.  Keputusan final sudah dibuat kedua belah pihak, cabut! Siang itu, untuk pertama kalinya aku cabut gigi.  Rasanya masih kupunya ternyata. Menangis sendirian di becak yang mengantarku, nangis jilid dua di kamar kos sehingga membuat Ibu kos cemas. Jogja, punya beberapa rumah sakit legendaris. Yo iki salah sijine , rumah sakit Bethesda. Berada di jalan Jendral Sudirman, semua kota yang nama jala...

YANG MASIH DIPUNYA

Image
  YANG MASIH DIPUNYA Oleh Giokni WTC Writer | Trainer | Coach Dari jarak lima meter sudah tertangkap oleh mata, ada 3 orang dari arah berlawanan. Segera otak mencari strategi, memerintahkan kaki untuk bergeser ke kiri dan bersiap memberi jalan agar tidak bersenggolan saat berpapasan. Demikian saat kami hendak meminta permisi kepada kru fotografer yang sedang memotret sepasang pengantin. Otak bekerja dengan penuh kesadaran bagaimana cara melewati beberapa orang itu. Rasa waspada dan sedikit cemas menyelusup hanya untuk sekedar saling berbagi atau meminta jalan. Dulu tidak perlu berpikir sedemikian penuh kesadaran untuk hal-hal seperti ini. Dua kejadian pagi ini seperti menyuruhku untuk merenungkan, syukur yang tak sempat terpanjatkan saat kita bebas leluasa bahkan bisa saling mendekat, berjabat tangan, bahkan berpelukan. Saat ini sikap respek justru diungkapkan dengan “Aku menjaga cukup jarak denganmu.”  Sore hari kami memesan piza margarita yang sangat berlimpah dengan pasta t...

YANG KUBISA

Image
  YANG KUBISA   Oleh Giokni WTC Writer | Trainer | Coach Kehadirannya perlahan menyusup. Lumrahnya respon atas peristiwa yang tidak mengenakkan, menyangkal! Awal tahun 2020 si Covid masih dianggap jauuuuuuh di Wuhan sana! “Dasar, orang jorok, makan kelelawar,” gunjingan orang. Hari ke-2 di bulan Maret, Presiden Jokowi mengumumkan kasus nomor 1 dan nomor 2 di Indonesia. Kita mulai kaget tapi masih berkelit dengan “Ahh, itu khan karena ketemu orang Jepang itu bla bla bla blaa…”  Hari demi hari dan secara berkala setiap hari diberitakan “Kasus nomor sekian, kasus nomor sekian.” Dan hari ini, sudah tidak ada pembahasan kasus dengan nomor urut. Bisa dower membacakan nomor demi nomor kasusnya jika ada 3000 kasus baru tiap harinya! Mungkin saat melihat angka di televisi atau berita elektronik, “Ahhh, itu angka, mboh (=tak tahu) siapa yang kena.” Sampai pada Pak RW yang mengunggah berita di WAG bahwa warga RT sekian ada yang kena. Sampai pada WA kita berbunyi, “Tolong doakan, Kak...