Posts

PENGHARGAAN UNTUK SEBUNGKUS NASI PADANG

Image
Kontribusi tulisan dari Joanna - Tim Elevasi 💡 Elevasi Insight  PENGHARGAAN UNTUK SEBUNGKUS NASI PADANG  Setelah tiga bulan lamanya ingin sekali melahap satu bungkus nasi Padang, namun selama ini kami sekeluarga meminimalisir pergi keluar untuk membeli makanan. Akhirnya siang ini saya dan keluarga langsung tancap gas ke rumah makan Padang yang menurut kami peduli pada protokol kesehatan. Bungkusan nasi Padang sudah di tangan, ketika saya menyendok dan menyuapkan nasi, potongan perkedel, sayur singkong, dan secuil telur ke dalam mulut saya, …. hmmm.. saya merasakan kenikmatan yang mewah dan sangat berharga. Siapa sangka untuk menikmati sebungkus nasi Padang, kita akan butuh memakai masker, menjaga jarak, menggosok tangan dengan hand sanitizer, membersihkan bungkusan makanan, dan memanaskannya di microwave? Ribet, ya, kalau dibandingkan dulu… Di masa transisi selepas PSBB, sangatlah normal untuk kita bereaksi antara lain seperti di bawah ini Senang bi...

TRUST THE PROCESS - Pelajaran dari “Membuat Roti”

Image
Kontribusi tulisan dari Joanna - tim Elevasi 💡 Elevasi Insight TRUST THE PROCESS - Pelajaran dari “Membuat Roti”  Beberapa waktu yang lalu saya membuat roti di rumah untuk pertama kalinya.  Saya browsing di Google dan mendapatkan resep yang simpel dan kelihatan enak.  Setelah beberapa hari agak skeptis dan sedikit gugup mencoba, akhirnya saya memberanikan diri membuat roti dibantu dengan anggota keluarga. Ketika sudah sekitar 15 menit meremas dan melipat adonannya, saya mulai mengeluh - “Lah, kok sudah 15 menit dan mulai pegal, tapi belum lembut juga ya adonannya?!”  Alhasil, kami sudah tidak sabar dan akhirnya mendiamkan adonannya - supaya ragi bisa membuat adonan berkembang.  Setelah 60 menit, kami memasukkan adonan ke oven dan menunggu roti sampai matang.  Namun, akibat ketidaksabaran kami, roti menjadi bantat, kurang mengembang, dan malah ada sedikit area yang kurang matang.  Yahhh… sedih, sebel, tapi memang...

GAK CUMA MAKAN BACANG/KWEECANG

Image
❤️💡My Simple Thought, 19 June 2020 ‘GAK CUMA MAKAN BACANG/KWEECANG... Hari ke-5 bulan ke-5 penanggalan Cina (lunar) dan jatuh pada 25 Juni tahun ini adalah hari Peh Cun. Apakah itu?  Sekarang dirayakan dengan Festival Perahu Naga di banyak kota, lalu makanan khas yang dibuat adalah Bacang/Kweecang. Sejarahnya… wah, seruuu.. kisah dari zaman 7 kerajaan di Tiongkok kuno, seorang patriot yang wafat dan konon jenazahnya dibuang ke sungai sehingga rakyat yang mencintainya menyusuri sungai dengan perahu-perahu mereka dengan harapan dapat menemukan si jasad. Orang-orang melempar banyak bacang/kweecang agar ikan lebih memilih makan makanan itu daripada tubuh sang pahlawan. Ahh.. tapi saya sedang ingin menulis tentang BACANG/KWEECANG-nya.  Sesungguhnya banyak dari kita sudah tidak asing dengan bacang, makanan dengan bentuk segitiga tapi tiga dimensi (limas?) dan bukan seperti onigiri yang pipih. Saat disantap sudah jadi segitiga 1000 dimensi karena ada seribu ras...

TAKUT REUNI? 'GAK PEDE?

Image
❤️ 💡 My Simple Thought, 13 June 2020 TAKUT REUNI? GAK PEDE? Setelah hampir 4 jam di depan layar laptop untuk online meeting, maka ingin leyeh-leyeh di beanbag sambil menonton santai NCIS. Tidak santai juga ternyata karena yang ditonton mengantarkan pesan serius yang membuat saya juga tak sabar untuk meraih laptop dan mengetik di jelang pergantian hari. Bukan kasus utamanya yang mampir menginspirasi, justru adegan lumrah sehari-hari yang bisa dialami oleh banyak orang—termasuk diriku. Adalah Timothy McGee (MG) yang enggan (Jawa: aras-arasen) untuk hadir di reuni kampus. Saya cuplikkan (terjemahan bebas) dialognya dengan teman detektif Special Agent Nick Torres (NT).  NT: “Ayolah.. pergi aja ke reuni kampusmu” MG: “Aku tuh, kuliah di John Hopkins University jurusan Biomedical, dan sekarang… aku cuma polisi.” NT: “Emang kenapa?” MG: “Teman-temanku pada jadi CEO perusahaan bioteknologi…” NT: “Kamu polisi dengan senjata!” MG: “Dengan gaji standar pemerintah” NT: “Tap...

IDUL FITRI KEMENANGAN

Image
❤️💡My Simple Thought, 26 May 2020 IDUL FITRI - KEMENANGAN Masih dalam suasana Idul Fitri, bagi teman-teman muslimku, saya ikut berbahagia karena tunai sudah sebulan menjalankan puasa menjelang tahun yang baru. Ya, menunaikan sebuah tugas adalah sebuah kemenangan, memohon maaf dengan kerendahan hati adalah sebuah kemenangan, punya kesempatan memasuki periode—tahun—yang baru juga kemenangan. Apakah kemenangan itu usaha setiap hari? Tentu saja!  Kemenangan diperoleh melalui proses yang bernama perjuangan dan setiap hari kita menghadapinya. Perjuangan pikiran dan perasaan saat membuat keputusan atas pilihan-pilihan yang ada, pilihan berpuasa dengan benar atau tidak, pilihan berdoa atau tidak, pilihan untuk makan sehat atau tidak, pilihan menghargai orang lain atau tidak, pilihan untuk minta maaf atau tidak, pilihan untuk memaafkan atau tidak, pilihan untuk taat atau tidak. Apa wujud yang kita tampilkan dalam TUTUR (speaking) dan LAKU (behaving)? Melanggar ...

NERVOUS BUKAN KUTIL

Image
❤️💡My Simple Thought, 19 May 2020 NERVOUS BUKAN KUTIL “Saya ingin terlepas dari nervous!” Nervousnya mau dilepasin? Seperti kalau lagi PSBB Covid-19 dan Anda perlu berbelanja ke supermarket lalu sesampainya di rumah segera dilepasin semua baju dan mandi keramas. “Saya benci nervous!” Ehh, kalau dibenci malah jadi nempel lho… kepikiran terus. “Pokoknya selama saya masih nervous, saya tidak mau lakukan itu.” Oh, gitu.. baiklah.. selamat tidak melakukan apa-apa. Nervous menghinggapi kita di banyak situasi, penugasan, atau PRESENTASI. Nama lainnya gugup, gejalanya macam-macam… ada yang mules (kalau bule sering menyebut dengan “I have butterflies in my stomach”), mulut kaku, tenggorokan kering, tangan berkeringat, mata berair, dan variasi lain yang berbeda bagi setiap orang. Saya juga pernah mengalami hal itu. Kunci pertama adalah MENYADARI & MENGENALINYA. Nah, ada sebagian orang yang berpikiran “Saya nervous, berarti saya tidak bisa lakukan i...

WAISAK 2020

Image
❤️💡My Simple Thought, 7 May 2020 WAISAK 2020 Pertengahan Maret kami bertiga—sekeluarga—masih sempat untuk menepi menyepi setelah beruntun kelas demi kelas hampir tiada henti di Jakarta. Memilih kota Yogyakarta & Magelang, beberapa hari itu lebih banyak waktu dihabiskan di kamar dan seputaran area hotel dengan intensi “semi-isolasi”. Berjalan kaki sambil menyiram diri dengan sinar matahari pagi, sarapan dan duduk untuk memandang sawah hijau membentang sambil mendengar kokok ayam dan nyanyi burung. Pengalaman yang tidak dijumpai di rumah kami di Jakarta. Di lain hari, setelah kabut sirna dan Bukit Menoreh unjuk badannya, kegiatan memberi makan rusa-rusa di kandangnya menjadi sebuah relaksasi mengasyikkan. Sehari sebelumnya, dalam perjalanan menuju area pelatarannya Candi Borobudur atau terasnya Bukit Menoreh menjadi sebuah perjalanan nostalgia yang sudah tidak sama lagi dibandingkan lebih dari 35 tahun yang lalu. Apa yang berbeda?  Banyak sekali hotel dari yan...